Pages

Tuesday, May 24, 2011

KIMIA INTI

Reaksi Inti

Reaksi Inti adalah proses perubahan yang terjadi dalam inti atom akibat tumbukan dengan partikel lain atau berlangsung dengan sendirinya.
Reaksi inti ditemukan oleh Rutherford pada tahun 1919.


Persamaan Reaksi Inti:
Q : kalor (joule)
X : Inti sasaran
Y : Inti baru
a : Partikel penembak
b : Partikel yang dihasilkan bersama inti baru

Hukum-hukum yang berlaku pada reaksi inti adalah:
1.Hukum kekekalam momentum, yaitu: jumlah momentum sebelum dan setelah tumbukan adalah sama.
2.Humum kekekalan energi, yaitu: jumlah energi sebelum dan setelah tumbukan adalah sama.
3.Hukum kekekalan nomor atom, yaitu: jumlah nomor atom sebelum dan setelah tumbukan adalah sama. maka R + S = T + U
4.Hukum kekekalan nomor massa, yaitu: jumlah momentum sebelum dan setelah tumbukan adalah sama. maka M + N = O + P

Bagamana cara menghitung energi yang dilepas/diperlukan dalam reaksi inti?
Rumus-rumus untuk menghitung energi yang dilepas/diperlukan dalam reaksi inti:
1. Q = Ep . N
Q : energi total (joule)
Ep : energi 1 partikel tiap reaksi = (joule)
N : jumlah partikel

2. Q =

Q : energi total (MeV)
: jumlah massa atom reaktan (sma)
: jumlah massa atom produk (sma)



Entri BlogBAHAYA RADIOAKTIFFeb 6, '08 7:07 AM
untuk

Radioaktivitas pertama kali ditemukan pada tahun 1896 oleh ilmuwan Perancis Henri Becquerel ketika sedang bekerja dengan material fosforen. Material semacam ini akan berpendar di tempat gelap setelah sebelumnya mendapat paparan cahaya, dan dia berfikir pendaran yang dihasilkan tabung katoda oleh sinar-X mungkin berhubungan dengan fosforesensi. Karenanya ia membungkus sebuah pelat foto dengan kertas hitam dan menempatkan beragam material fosforen diatasnya. Kesemuanya tidak menunjukkan hasil sampai ketika ia menggunakan garam uranium. Terjadi bintik hitam pekat pada pelat foto ketika ia menggunakan garam uranium tesebut.

Tetapi kemudian menjadi jelas bahwa bintik hitam pada pelat bukan terjadi karena peristiwa fosforesensi, pada saat percobaan, material dijaga pada tempat yang gelap. Juga, garam uranium nonfosforen dan bahkan uranium metal dapat juga menimbulkan efek bintik hitam pada pelat.

Partikel Alfa tidak mampu menembus selembar kertas, partikel beta tidak mampu menembus pelat alumunium. Untuk menghentikan gamma diperlukan lapisan metal tebal, namun karena penyerapannya fungsi eksponensial akan ada sedikit bagian yang mungkin menembus pelat metal. Pada awalnya tampak bentuk radiasi yang baru ditemukan ini mirip dengan penemuan sinar-X. Akan tetapi, penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Becquerel, Marie Curie, Pierre Curie, Ernest Rutherford dan ilmuwan lainnya menemukan bahwa radiaktivitas jauh lebih rumit ketimbang sinar-X. Beragam jenis peluruhan bisa terjadi.

Sebagai contoh, ditemukan bahwa medan listrik atau medan magnet dapat memecah emisi radiasi menjadi tiga sinar. Demi memudahkan penamaan, sinar-sinar tersebut diberi nama sesuai dengan alfabet yunani yakni alpha, beta, dan gamma, nama-nama tersebut masih bertahan hingga kini. Kemudian dari arah gaya elektromagnet, diketahui bahwa sinar alfa mengandung muatan positif, sinar beta bermuatan negatif, dan sinar gamma bermuatan netral. Dari

besarnya arah pantulan, juga diketahui bahwa partikel alfa jauh lebih berat ketimbang partikel beta. Dengan melewatkan sinar alfa melalui membran gelas tipis dan menjebaknya dalam sebuah tabung lampu neon membuat para peneliti dapat mempelajari spektrum emisi dari gas yang dihasilkan, dan membuktikan bahwa partikel alfa kenyataannya adalah sebuah inti atom helium. Percobaan lainnya menunjukkan kemiripan antara radiasi beta dengan sinar katoda serta kemiripan radiasi gamma dengan sinar-X.

Para peneliti ini juga menemukan bahwa banyak unsur kimia lainnya yang mempunyai isotop radioaktif. Radioaktivitas juga memandu Marie Curie untuk mengisolasi radium dari barium; dua buah unsur yang memiliki kemiripan sehingga sulit untuk dibedakan.

Dewasa ini di beberapa negara maju pemanfaatan tenaga nuklir di berbagai bidang kehidupan masyarakat, seperti di bidang penelitian, pertanian, kesehatan, industri, dan energi sudah begitu pesat, maka sudah sewajarnya potensi tenaga nuklir yang cukup besar tersebut dikembangkan dan dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat. Namun, di samping manfaatnya yang begitu besar tenaga nuklir juga mempunyai potensi bahaya radiasi terhadap pekerja, anggota masyarakat, dan lingkungan hidup apabila dalam pemanfaatan tenaga nuklir, ketentuan-ketentuan tentang keselamatan nuklir tidak diperhatikan dan tidak diawasi dengan sebaik-baiknya.

Pembinaan dan pengembangan kemampuan sumber daya manusia adalah syarat mutlak dalam rangka mendukung upaya pemanfaatan tenaga nuklir dan pengawasannya sehingga pemanfaatan tenaga nuklir benar-benar meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan tingkat keselamatan yang tinggi. Pembinaan dan pengembangan ini dilakukan juga untuk meningkatkan disiplin dalam mengoperasikan instalasi nuklir dan menumbuhkembangkan budaya keselamatan. Zat radio aktif adalah setiap zat yang memancarkan radiasi pengion dengan aktivitas jenis lebih besar daripada 70 kBq/kg atau 2 nCi/g (tujuh puluh kilobecquerel per kilogram atau dua nanocurie per gram). Angka 70 kBq/kg (2 nCi/g) tersebut merupakan patokan dasar untuk suatu zat dapat disebut zat radioaktif pada umum-nya yang ditetapkan berdasarkan ketentuan dari Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency). Namun, masih terdapat beberapa zat yang walaupun mempunyai aktivitas jenis lebih rendah daripada batas itu dapat dianggap sebagai zat radioaktif karena tidak mungkin ditentukan batas yang sama bagi semua zat mengingat sifat masing-masing zat tersebut berbeda.

Pengertian atau arti definisi pencemaran zat radioaktif adalah suatu pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh debu radioaktif akibat terjadinya ledakan reaktor-reaktor atom serta bom atom. Limbah radioaktif adalah zat radioaktif dan bahan serta peralatan yang telah terkena zat radioaktif atau menjadi radioaktif karena pengoperasian instalasi nuklir yang tidak dapat digunakan lagi. yang paling berbahaya dari pencemaran radioaktif seperti nuklir adalah radiasi sinar alpha, beta dan gamma yang sangat membahayakan makhluk hidup di sekitarnya. Selain itu partikel-partikel neutron yang dihasilkan juga berbahaya. Zat radioaktif pencemar lingkungan yang biasa ditemukan adalah 90SR penyebab kanker tulang dan 131J.

Apabila ada makhluk hidup yang terkena radiasi atom nuklir yang berbahaya biasanya akan terjadi mutasi gen karena terjadi perubahan struktur zat serta pola reaksi kimia yang merusak sel-sel tubuh makhluk hidup baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan atau binatang.

Efek serta Akibat yang ditimbulkan oleh radiasi zat radioaktif pada umat manusia seperti berikut di bawah ini : Pusing-pusing, Nafsu makan berkurang atau hilang, Terjadi diare, Badan panas atau demam, Berat badan turun, Kanker darah atau leukimia, Meningkatnya denyut jantung atau nadi.


Peluruhan radioaktif adalah kumpulan beragam proses di mana sebuah inti atom yang tidak stabil memancarkan partikel subatomik (partikel radiasi). Peluruhan terjadi pada sebuah nukleus induk dan menghasilkan sebuah nukleus anak. Ini adalah sebuah proses acak sehingga sulit untuk memprediksi peluruhan sebuah atom.

Satuan internasional (SI) untuk pengukuran peluruhan radioaktif adalah becquerel (Bq). Jika sebuah material radioaktif menghasilkan 1 buah kejadian peluruhan tiap 1 detik, maka dikatakan material tersebut mempunyai aktivitas 1 Bq. Karena biasanya sebuah sampel material radiaktif mengandung banyak atom,1 becquerel akan tampak sebagai tingkat aktivitas yang rendah; satuan yang biasa digunakan adalah dalam orde gigabecquerels.

Neutron dan proton yang menyusun inti atom, terlihat seperti halnya partikel-partikel lain, diatur oleh beberapa interaksi. Gaya nuklir kuat, yang tidak teramati pada skala makroskopik, merupakan gaya terkuat pada skala subatomik. Hukum Coulomb atau gaya elektrostatik juga mempunyai peranan yang berarti pada ukuran ini. Gaya nuklir lemah sedikit berpengaruh pada interaksi ini. Gaya gravitasi tidak berpengaruh pada proses nuklir.

Interaksi gaya-gaya ini pada inti atom terjadi dengan kompleksitas yang tinggi. Ada sifat yang dimiliki susunan partikel di dalam inti atom, jika mereka sedikit saja bergeser dari posisinya, mereka dapat jatuh ke susunan energi yang lebih rendah. Mungkin bisa sedikit digambarkan dengan menara pasir yang kita buat di pantai: ketika gesekan yang terjadi antar pasir mampu menopang ketinggian menara, sebuah gangguan yang berasal dari luar dapat melepaskan gaya gravitasi dan membuat tower itu runtuh.

Keruntuhan menara (peluruhan) membutuhkan energi aktivasi tertentu. Pada kasus menara pasir, energi ini datang dari luar sistem, bisa dalam bentuk ditendang atau digeser tangan. Pada kasus peluruhan inti atom, energi aktivasi sudah tersedia dari dalam. Partikel mekanika kuantum tidak pernah dalam keadaan diam, mereka terus bergerak secara acak. Gerakan teratur pada partikel ini dapat membuat inti seketika tidak stabil. Hasil perubahan akan memengaruhi susunan inti atom; sehingga hal ini termasuk dalam reaksi nuklir, berlawanan dengan reaksi kimia yang hanya melibatkan perubahan susunan elektron diluar inti atom.

(Beberapa reaksi nuklir melibatkan sumber energi yang berasal dari luar, dalam bentuk "tumbukkan" dengan partikel luar misalnya. Akan tetapi, reaksi semacam ini tidak dipertimbangkan sebagai peluruhan. Reaksi seperti ini biasanya akan dimasukan dalam fisi nuklir/fusi nuklir.

Penemuan

Radioaktivitas pertama kali ditemukan pada tahun 1896 oleh ilmuwan Perancis Henri Becquerel ketika sedang bekerja dengan material fosforen. Material semacam ini akan berpendar di tempat gelap setelah sebelumnya mendapat paparan cahaya, dan dia berfikir pendaran yang dihasilkan tabung katoda oleh sinar-X mungkin berhubungan dengan fosforesensi. Karenanya ia membungkus sebuah pelat foto dengan kertas hitam dan menempatkan beragam material fosforen diatasnya. Kesemuanya tidak menunjukkan hasil sampai ketika ia menggunakan garam uranium. Terjadi bintik hitam pekat pada pelat foto ketika ia menggunakan garam uranium tesebut.

Tetapi kemudian menjadi jelas bahwa bintik hitam pada pelat bukan terjadi karena peristiwa fosforesensi, pada saat percobaan, material dijaga pada tempat yang gelap. Juga, garam uranium nonfosforen dan bahkan uranium metal dapat juga menimbulkan efek bintik hitam pada pelat.


Partikel Alfa tidak mampu menembus selembar kertas, partikel beta tidak mampu menembus pelat alumunium. Untuk menghentikan gamma diperlukan lapisan metal tebal, namun karena penyerapannya fungsi eksponensial akan ada sedikit bagian yang mungkin menembus pelat metal

Pada awalnya tampak bentuk radiasi yang baru ditemukan ini mirip dengan penemuan sinar-X. Akan tetapi, penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Becquerel, Marie Curie, Pierre Curie, Ernest Rutherford dan ilmuwan lainnya menemukan bahwa radiaktivitas jauh lebih rumit ketimbang sinar-X. Beragam jenis peluruhan bisa terjadi.

Sebagai contoh, ditemukan bahwa medan listrik atau medan magnet dapat memecah emisi radiasi menjadi tiga sinar. Demi memudahkan penamaan, sinar-sinar tersebut diberi nama sesuai dengan alfabet yunani yakni alpha, beta, dan gamma, nama-nama tersebut masih bertahan hingga kini. Kemudian dari arah gaya elektromagnet, diketahui bahwa sinar alfa mengandung muatan positif, sinar beta bermuatan negatif, dan sinar gamma bermuatan netral. Dari besarnya arah pantulan, juga diketahui bahwa partikel alfa jauh lebih berat ketimbang partikel beta. Dengan melewatkan sinar alfa melalui membran gelas tipis dan menjebaknya dalam sebuah tabung lampu neon membuat para peneliti dapat mempelajari spektrum emisi dari gas yang dihasilkan, dan membuktikan bahwa partikel alfa kenyataannya adalah sebuah inti atom helium. Percobaan lainnya menunjukkan kemiripan antara radiasi beta dengan sinar katoda serta kemiripan radiasi gamma dengan sinar-X.

Para peneliti ini juga menemukan bahwa banyak unsur kimia lainnya yang mempunyai isotop radioaktif. Radioaktivitas juga memandu Marie Curie untuk mengisolasi radium dari barium; dua buah unsur yang memiliki kemiripan sehingga sulit untuk dibedakan.

Bahaya radioaktivitas dari radiasi tidak serta merta diketahui. Efek akut dari radiasi pertama kali diamati oleh insinyur listrik Amerika Elihu Thomson yang secara terus menerus mengarahkan sinar-X ke jari-jarinya pada 1896. Dia menerbitkan hasil pengamatannya terkait dengan efek bakar yang dihasilkan. Bisa dikatakan ia menemukan bidang ilmu fisika medik (health physics); untungnya luka tersebut sembuh dikemudian hari.

Efek genetis radiasi baru diketahui jauh dikemudian hari. Pada tahun 1927 Hermann Joseph Muller menerbitkan penelitiannya yang menunjukkan efek genetis radiasi. Pada tahun 1947 dimendapat penghargaan hadiah Nobel untuk penemuannya ini.

Sebelum efek biologi radiasi diketahui, banyak perusahan kesehatan yang memasarkan obat paten yang mengandung bahan radioaktif; salah satunya adalah penggunaan radium pada perawatan enema. Marie Curie menentang jenis perawatan ini, ia memperingatkan efek radiasai pada tubuh manusia belum benar-benar diketahui (Curie dikemudian hari meninggal akibat Anemia Aplastik, yang hampir dipastikan akibat lamanya ia terpapar Radium). Pada tahun 1930-an produk pengobatan yang mengandung bahan radioaktif tidak ada lagi dipasaran bebas.

Mode Peluruhan

Sebuah inti radioaktif dapat melakukan sejumlah reaksi peluruhan yang berbeda. Reaksi-reaksi tersebut disarikan dalam tabel berikut ini. Sebuah inti atom dengan muatan (nomor atom) Z dan berat atom A ditampilkan dengan (A, Z).

Mode peluruhan Partikel yang terlibat Inti anak
Peluruhan dengan emisi nukleon:
Peluruhan alfa Sebuah partikel alfa (A=4, Z=2) dipancarkan dari inti (A-4, Z-2)
Emisi proton Sebuah proton dilepaskan dari inti (A-1, Z-1)
Emisi neutron Sebuah neutron dilepaskan dari inti (A-1, Z)
Fisi spontan Sebuah inti terpecah menjadi dua atau lebih atom dengan inti yang lebih kecil disertai dengan pemancaran partikel lainnya -
Peluruhan cluster Inti atom memancarkan inti lain yang lebih kecil tertentu (A1, Z1) yang lebih besar daripada partikel alfa (A-A1, Z-Z1) + (A1,Z1)
Berbagai peluruhan beta:
Peluruhan beta Sebuah inti memancarkan

elektron dan sebuah antineutrino || (A, Z+1)

Emisi positron Sebuah inti memancarkan positron dan sebuah neutrino (A, Z-1)
Tangkapan elektron Sebuah inti menangkap elektron yang mengorbit dan memancarkan sebuah neutrino (A, Z-1)
Peluruhan beta ganda Sebuah inti memancarkan dua elektron dan dua antineutrinos (A, Z+2)
Tangkapan elektron ganda Sebuah inti menyerap dua elektron yang mengorbit dan memancarkan dua neutrino (A, Z-2)
Tangkapan elektron dengan emisi positron Sebuah inti menangkap satu elektron yang mengorbit memancarkan satu positron dan dua neutrino (A, Z-2)
Emisi positron ganda Sebuah inti memancarkan dua positrons dan dua neutrino (A, Z-2)
Transisi antar dua keadaan pada inti yang sama:
Peluruhan gamma Sebuah inti yang tereksitasi melepaskan sebuah foton energi tinggi (sinar gamma) (A, Z)
Konversi internal Inti yang tereksitasi mengirim energinya pada sebuah elektron orbital dan melepaskannya (A, Z)

Peluruhan radioaktif berakibat pada pengurangan massa, dimana menurut hukum relativitas khusus massa yang hilang diubah menjadi energi (pelepasan energi) sesuai dengan persamaan E = mc2. Energi ini dilepaskan dalam bentuk energi kinetik dari partikel yang dipancarkan.

Rantai peluruhan dan mode peluruhan ganda

Banyak inti radioaktif yang mempunyai mode peluruhan berbeda. Sebagai contoh adalah Bismuth-212, yang mempunyai tiga.

Inti anak yang dihasilkan dari proses peluruhan biasanya juga tidak stabil, kadang lebih tidak stabil dari induknya. Bila kasus ini terjadi, inti anak tadi akan meluruh lagi. Proses kejadian peluruhan berurutan yang menghasilkan hasil akhir inti stabil, disebut rantai peluruhan.

Keberadaan dan penerapan

Menurut teori Big Bang, isotop radioaktif dari unsur teringan (H, He, dan Li) dihasilkan tidak berapa lama seteleah alam semesta terbentuk. Tetapi, inti-inti ini sangat tidak stabil sehingga tidak ada dari ketiganya yang masih ada saat ini. Karenanya sebagian besar inti radioaktif yang ada saat ini relatif berumur muda, yang terbentuk di bintang (khususnya supernova) dan selama interaksi antara isotop stabil dan partikel berenergi. Sebagai contoh, karbon-14, inti radioaktif yang mempunyai umur-paruh hanya 5730 tahun, secara terus menerus terbentuk di atmosfer atas bumi akibat interaksi antara sinar kosmik dan Nitrogen.

Peluruhan radioaktif telah digunakan dalam teknik perunut radioaktif, yang digunakan untuk mengikuti perjalanan subtansi kimia di dalam sebuah sistem yang kompleks (seperti organisme hidup misalnya). Sebuah sampel dibuat dengan atom tidak stsbil konsentrasi tinggi. Keberadaan substansi di satu atau lebih bagian sistem diketahui dengan mendeteksi lokasi terjadinya peluruhan.

Dengan dasar bahwa proses peluruhan radioaktif adalah proses acak (bukan proses chaos), proses peluruhan telah digunakan dalam perangkat keras pembangkit bilangan-acak yang merupakan perangkat dalam meperkirakan umur absolutmaterial geologis dan bahan organik.

Laju peluruhan radioaktif

Laju peluruhan, atau aktivitas, dari material radioaktif ditentukan oleh:

Konstanta:

  • Waktu paruh - simbol t1 / 2 - waktu yang diperlukan sebuah material radioaktif untuk meluruh menjadi setengah bagian dari sebelumnya.
  • Rerata waktu hidup - simbol τ - rerata waktu hidup (umur hidup) sebuah material radioaktif.
  • Konstanta peluruhan - simbol λ - konstanta peluruhan berbanding terbalik dengan waktu hidup (umur hidup).
(Perlu dicatat meskipun konstanta, mereka terkait dengan perilaku yang secara statistik acak, dan prediksi menggunakan kontanta ini menjadi berkurang keakuratannya untuk material dalam jumlah kecil. Tetapi, peluruhan radioaktif yang digunakan dalam teknik penanggalan sangat handal. Teknik ini merupakan salah satu pertaruhan yang aman dalam ilmu pengetahuan sebagaimana yang disampaikan oleh [1])

Variabel:

  • Aktivitas total - simbol A - jumlah peluruhan tiap detik.
  • Aktivitas khusus - simbol SA - jumlah peluruhan tiap detik per jumlah substansi. "Jumlah substansi" dapat berupa satuan massa atau volume.)

Persamaan:

 t_{1/2} = \frac{ln(2)}{\lambda} = \tau ln(2)
 A =  \frac{dN}{dt} = - \lambda N
 S_A a_0 = \frac{dN}{dt}\bigg|_{t=0} = - \lambda N_0
dimana
 a_0 \ adalah jumlah awal material aktif.

Pengukuran aktivitas

Satuan aktivitas adalah: becquerel (simbol Bq) = jumah disintegrasi (pelepasan)per detik ; curie (Ci) =  3.7 \times 10^{10} \ disintegrasi per detik; dan disintegrasi per menit (dpm).

Waktu peluruhan

Sebagaimana yang disampaikan di atas, peluruhan dari inti tidak stabil merupakan proses acak dan tidak mungkin untuk memperkirakan kapan sebuah atom tertentu akan meluruh, melainkan ia dapat meluruh sewaktu waktu. Karenanya, untuk sebuah sampel radioisotop tertentu, jumlah kejadian peluruhan –dN yang akan terjadi pada selang (interval) waktu dt adalah sebanding dengan jumlah atom yang ada sekarang. Jika N adalah jumlah atom, maka kemungkinan (probabilitas) peluruhan (– dN/N) sebanding dengan dt:

 \left(-\frac{dN}{N} \right) = \lambda \cdot dt

Masing-masing inti radioaktif meluruh dengan laju yang berbeda, masing-masing mempunyai konstanta peluruhan sendiri (λ). Tanda negatif pada persamaan menunjukkan bahwa jumlah N berkurang seiring dengan peluruhan. Penyelesaian dari persamaan diferensial orde 1 ini adalah fungsi berikut:

N(t) = N_0 e^{-\lambda t} \,\!

Fungsi di atas menggambarkan peluruhan exponensial, yang merupakan penyelesaian pendekatan atas dasar dua alasan. Pertama, fungsi exponensial merupakan fungsi berlanjut, tetapi kuantitas fisik N hanya dapat bernilai bilangan bulat positif. Alasan kedua, karena persamaan ini penggambaran dari sebuah proses acak, hanya benar secara statistik. Akan tetapi juga, dalam banyak kasus, nilai N sangat besar sehingga fungsi ini merupakan pendekatan yang baik.

Selain konstanta peluruhan, peluruhan radioaktif sebuah material biasanya juga dicirikan oleh rerata waktu hidup. Masing-masing atom "hidup" untuk batas waktu tertentu sebelum ia meluruh, dan rerata waktu hidup adalah rerata aritmatika dari keseluruhan waktu hidup atom-atom material tersebut. Rerata waktu hidup disimbolkan dengan τ, dan mempunyai hubungan dengan konstanta peluruhan sebagai berikut:

\tau = \frac{1}{\lambda}

Parameter yang lebih biasa digunakan adalah waktu paruh. Waktu paruh adalah waktu yang diperlukan sebuah inti radioatif untuk meluruh menjadi separuh bagian dari sebelumnya. Hubungan waktu paruh dengan konstanta peluruhan adalah sebagai berikut:

t_{1/2} = \frac{\ln 2}{\lambda}

Hubungan waktu paruh dengan konstanta peluruhan menunjukkan bahwa material dengan tingkat radioaktif yang tinggi akan cepat habis, sedang materi dengan dengan tingkat radiasi rendah akan lama habisnya. Waktu paruh inti radioaktif sangat bervariasi, dari mulai 1024 tahun untuk inti hampir stabil, sampai 10-6 detik untuk yang sangat tidak stabil.



REAKSI INTI

REAKSI INTI
reaksi inti (atau nuklir) dapat direkayasa dalam suatu reaktor. Berupa reaksi fisi (pembelahan dua inti radioaktif). Bila reaksi inti dibuat sedemikian rupa, secara berantai dan tak terkendali, dapat menghasilkan energi yang dahsyat dalam bentuk ledakan dan energi panas. Dengan cara inilah bom atom, bom hidrogen dan hulu ledak nuklir dibuat. Besarnya energi yang dihasilkan dirumuskan Albert Einstein sebagai berikut:

INFO LOWONGAN KERJA....


E=mc ² E=jumlah energi yang dihasilkan (kilojoule)
m=Bobot yang diubah menjadi energi (Kg)
c=Kecepatan cahaya (300.000 Km/detik)

Di pihak lain, potensi nuklir dapat pula dikendalikan dan dimanfaatkan sebagai sumber iradiasi dan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). Cara yang kedua inilah yang kini banyak dipromosikan orang dimana-mana. Diluar bencana maha dahsyat di Hiroshima (6/8/45) dan Nagasaki (9/8/45), nuklir telah pula memberikan banyak manfaat bagi kesejahteraan manusia.Di luar potensinya sebagai penghasil listrik yang 'bersih', nuklir terbukti dapat membantu berbagai upaya manusia dalam kedokteran, pertanian, geologi, antariksa, elektronika, dan ekologi. Antara lain dalam sterilisasi peralatan, pengawetan bahan pangan, pencarian bibit unggul, perunut kebocoran irigasi, serta alat bantu analisa dan instrumentasi proses industri.

Reaksi nuklir atau disebut juga reaksi inti sangat berbeda dengan reaksi kimia biasa. Reaksi kimia hanya terjadi antar unsur-unsur kimia beserta ikatan-ikatannya tanpa mengubah bentuk dari masing-masing unsur tersebut, seperti misalnya senyawa Hidrogen (H2) bereaksi dengan senyawa Oksigen (O2) akan menghasilkan molekul air (H2O). Reaksi nuklir atau reaksi inti merupakan reaksi berubahnya inti suatu unsur menjadi inti unsur lain yang berbeda sehingga reaksi ini lebih ditekankan pada perubahan nomor massa dan nomor atom pada suatu inti atom. Contoh yang paling dikenal pada reaksi nuklir adalah pembelahan inti uranium dengan cara menembakkan netron ke inti tersebut, yang mengakibatkan hilangnya uranium dan berganti dengan dua unsur lain (Cs dan Rb) yang sama sekali berbeda dengan uranium

Reaksi nuklir hingga saat ini dikenal dalam bentuk dua macam, reaksi fisi atau pembelahan inti dan reaksi fusi atau penggabungan inti. Reaksi fisi merupakan reaksi pembelahan inti menjadi inti-inti hasil reaksi yang lebih kecil. Reaksi ini terjadi pada teras reaktor nuklir. Reaksi fusi merupakan reaksi penggabungan beberapa inti atom menjadi sebuah inti atom yang lebih besar. Reaksi ini terjadi pada matahari atau bintang-bintang di angkasa atau ledakan bom hidrogen.

Panas untuk menghasilkan uap penggerak turbin pada PLTN diperoleh dari hasil pembelahan inti (reaksi fisi). Reaksi fisi tersebut berupa inti uranium (U-235) yang ditembak neutron thermal. Uranium U-235 akan menjadi U-236 ketika menyerap neutron dan selanjutnya akan pecah menjadi dua unsur lain yang lebih ringan beserta neutron teremisi dan energi. Neutron-neutron hasil reaksi fisi akan terabsorbsi lagi oleh U-235 sehingga terjadi reaksi fisi berikutnya. Reaksi yang berkelanjutan ini dikenal dengan istilah reaksi berantai dimana pada PLTN, reaksi ini dikendalikan untuk menghasilkan daya listrik yang diinginkan. Gambar dibawah menunjukkan proses reaksi fisi yang menghasilkan energi dan dimanfaatkan untuk pembangkitan tenaga listrik.
Dalam fisika nuklir, sebuah reaksi nuklir adalah sebuah proses dimana dua nuklei atau partikel nuklir bertubrukan, untuk memproduksi hasil yang berbeda dari produk awal. Pada prinsipnya sebuah reaksi dapat melibatkan lebih dari dua partikel yang bertubrukan, tetapi kejadi tersebut sangat jarang. Bila partikel-partikel tersebut bertabrakan dan berpisah tanpa berubah (kecuali mungkin dalam level energi), proses ini disebut tabrakan dan bukan sebuah reaksi.
Dikenal dua reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi nuklir dan reaksi fisi nuklir. Reaksi Fusi nuklir adalah reaksi peleburan dua atau lebih inti atom menjadi atom baru dan menghasilkan energi, juga dikenal sebagai reaksi yang bersih. Reaksi Fisi nuklir adalah reaksi pembelahan inti atom akibat tubrukan inti atom lainnya, dan menghasilkan energi dan atom baru yang bermasa lebih kecil, serta radiasi elektromagnetik. Reaksi fusi juga menghasilkan radiasi sinar alfa, beta dan gamma yang sagat berbahaya bagi manusia.
Contoh reaksi fusi nuklir adalah reaksi yang terjadi di hampir semua inti bintang di alam semesta, senjata bom hidrogen juga memanfaatkan prinsip reaksi fusi tak terkendali. Contoh reaksi fisi adalah ledakan senjata nuklir dan pembangkit listrik tenaga nuklir.
Unsur yang sering digunakan dalam reaksi fisi nuklir adalah Plutonium dan Uranium (terutama Plutonium-239 , Uranium-235 ), sedangkan dalam reaksi fusi nuklir adalah Lithium dan Hidrogen (terutama Lithium-6 , Deuterium , Tritium ).
Ada dua alasan yang membuat neutron menjadi penting bagi fisi nuklir. Pertama, karena tidak memiliki muatan listrik—tidak seperti partikel alpha—maka neutron tidak ditolak oleh inti atom yang bermuatan positif.
Neutron lalu bisa menjadi partikel untuk membombardir inti yang—tidak seperti halnya sinar gamma, atau lebih-lebih sinar beta (elektron)—punya massa memadai.
Yang kedua, salah satu efek dari membombardir inti dengan neutron adalah pelepasan neutron bebas lain (yang memiliki energi kinetik pembebasan yang besar). Neutron lalu memberi jalan bagi terjadinya ”reaksi berantai”.
Di laboratorium, jalan menuju reaksi berantai mulai terbuka ketika fisikawan Italia, Enrico Fermi (1901-1854), melaporkan pada tahun 1934, bahwa produk radioaktif baru terbentuk dengan membombardir uranium dengan neutron lambat. Produk-produk itu sendiri ia sebut unsur-unsur transuranium.
Pada tahun 1938 ahli kimia Jerman, Otto Hahn dan Fritz Strassman, dari Institut Kaisar Wilhelm di Berlin memperlihatkan bahwa apa yang terjadi dalam eksperimen yang dilakukan Fermi di atas merupakan terbelahnya inti uranium menjadi dua pecahan lebih ringan yang massanya lebih kurang sama.
Proses inilah yang kemudian dinamai ”fisi (pembelahan) nuklir”. Niels Bohr (1885-1962) dan JA Wheeler memperlihatkan bahwa proses fisi ini terjadi pada isotop uranium yang lebih jarang, yakni uranium-235, sementara yang lebih banyak terdapat adalah uranium-238.
Seperti telah disinggung di atas, yang tidak kalah pentingnya dari proses ini adalah bahwa selain energi pembebasan yang sangat besar, setiap fisi disertai dengan pemancaran 2-3 neutron, yang berikutnya akan membelah lebih banyak lagi inti uranium-235 (selanjutnya disingkat U-235), melahirkan reaksi berantai nuklir.
Yang tidak kalah seru, waktu pembangkitan neutron untuk setiap langkah ini hanya 0,01 mikrosekon (persejuta detik).
Reaksi berantai nuklir dengan demikian bisa menciptakan penggandaan neutron dalam tempo yang amat cepat, yaitu 0,5 mikrosekon. Berdasarkan perhitungan, satu kilogram U-235 untuk bisa berfisi sempurna hanya membutuhkan tempo 0,5 mikrosekon.
Jadi, dengan memberi kondisi yang tepat, energi fisi dalam jumlah yang amat besar bisa dibebaskan dalam tempo kurang dari sepersejuta detik. Inilah latar belakang teori yang digunakan dalam pembuatan bom atom.
BELAKANGAN pemberitaan tentang nuklir kembali menghangat. Di media massa terutama ada dua hal yang dibahas. Pertama tentang ancaman Amerika Serikat (AS) terhadap Korea Utara yang dicurigai akan mengaktifkan kembali reaktor pembangkit dan lebih lanjut memproduksi bom nuklir. Suatu hal yang mirip alasan AS menyerang Irak. Kedua, pemberitaan tentang rencana pemerintah mempertimbangkan kembali rencana pembangunan pusat reaktor nuklir di Muria.
TULISAN ini akan membahas sekilas tentang berbagai prinsip kimia nuklir reaktor. Benarkah reaktor nuklir dapat menghasilkan bom nuklir?
Pembangkit listrik nuklir bekerja atas dasar reaksi nuklir. Berbeda dengan reaksi kimia yang merupakan penyusunan ulang ikatan kimia, pada reaksi nuklir terjadi penyusunan ulang inti atom.
Pada reaksi inti terjadi apa yang terkenal dengan hukum kekekalan massa energi E = mc². Perubahan yang kecil pada massa (m), akan menjelma dalam sejumlah besar energi, yakni sebesar c² kali lipat. C adalah kecepatan rambat cahaya di tempat yang hampa udara.
Misalnya pada reaksi inti uranium-235 sebanyak 235 gr. Selain yang sebagian besar berubahmenjadi stonsium-90dan xenon-143,akan dilepas energi. Jumlah energi ini setara dengan pembakaran 400.000 ton batu bara.
Lebih lanjut ada dua tipe utama reaksi inti, yakni reaksi fusi (penggabungan inti ringan menjadi berat) dan fisi (pembelahan inti berat menjadi dua atau lebih inti ringan). Secara praktis sampai kini, yang secara teknologi sudah mungkin adalah reaksi fisi. Untuk reaksi fusi, berbagai masalah teknis seperti belum ditemukannya wadah reaktor yang cocok menghalangi pemanfaatan tipe fusi untuk menghasilkan energi.
WALAUPUN banyak inti berat yang dapat digunakan dalam reaksi fisi, hanya fisi uranium-235 (yang ada di alam) dan plutonium-239 (inti radioaktif buatan dari uranium-238) yang praktis.
Ketika inti U-235 menangkap neutron, inti yang mengalami fisi menghasilkan dua inti yang lebih kecil. Secara rata-rata, tiga neutron dipancarkan untuk setiap inti U-235 yang terbagi (lihat gambar 1).
Sifat penting fisi uranium-235 tidak hanya dari besar energi yang dihasilkan, tetapi juga fakta bahwa lebih banyak neutron dihasilkan dari neutron yang tadinya ditangkap pada proses. Sifat ini memungkinkan reaksi inti berantai, yakni tahapan reaksi fisi inti yang berkesinambungan.
Neutron yang dihasilkan pada awal tahap fisi dapat merangsang fisi inti uranium-235 lain, yang selanjutnya menghasilkan neutron lebih banyak lagi, dan seterusnya. Dalam waktu kurang dari satu detik, reaksi dapat menjadi tak terkontrol sehingga membebaskan panas yang jumlahnya sangat besar ke lingkungan.
Pada gambar 1 terlihat, reaksi inti berkesinambungan satu neutron akan membelah satu inti U-235 sambil menghasilkan 2 sampai 3 neutron, yang dapat membelah inti U-235 yang lain.
Agar reaksi berantai terjadi, harus ada cukup uranium-235 dalam sampel untuk menangkap neutron. Kalau tidak, banyak neutron akan lepas dari sampel dan reaksi berantai tidak akan terjadi (dalam keadaan ini massa sampel disebut berada pada massa subkritis).
Bila jumlah inti yang dapat dibelah lebih besar dari massa kritis akan terjadi reaksi berantai yang tak terkontrol dan dapat digunakan untuk bom atom. U-235 adalah bahan yang digunakan pada bom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, 6 Agustus 1945. Sementara Pu-239 digunakan pada bom yang dijatuhkan di Nagasaki tiga hari kemudian.
KUNCI aplikasi reaksi nuklir untuk reaktor pembangkit listrik adalah pengendalian jangan sampai reaksi yang tak terkendali terjadi. Karena itu, kunci utama dari reaktor nuklir adalah moderator dan batang pengontrol yang fungsinya untuk mengendalikan jumlah neutron agar tetap berada dalam kuantitas cukup, mirip dengan dengan moderator diskusi yang bertugas menciptakan suasana diskusi yang selaras: tidak terlalu riuh, tetapi sebaliknya jangan terlalu sepi.
Bila air digunakan sebagai moderator dikenallah apa yang disebut reaktor air ringan, yang skematik reaktornya digambarkan pada gambar 2 yang menunjukkan diagram reaktor nuklir air ringan.
Bahan bakar nuklir terdiri dari uranium, biasanya dalam bentuk oksidanya. Uranium yang ada di alam mengandung sekitar 0,7 persen isotop uranium-235, suatu nilai konsentrasi yang terlalu rendah untuk mempertahankan reaksi rantai skala kecil. Agar beroperasi efektif dalam reaktor air ringan, uranium-235 harus diperkaya konsentrasinya hingga 3-4 persen (kandungan U-235 di mineral alam sekitar 0,720 persen).
Reaktor nuklir memiliki sistem pendingin agak rumit untuk menyerap panas yang dihasilkan reaksi inti dan mentransfernya keluar inti reaktor. Panas ini kemudian digunakan untuk menghasilkan uap guna menggerakkan generator listrik.
Dalam hal ini, pusat listrik tenaga nuklir mirip dengan pusat listrik konvensional yang membakar bahan bakar fosil. Dalam kedua kasus, kuantitas air pendingin diperlukan untuk mengondensasi uap yang jumlahnya cukup besar.
Tidak mengherankan bila sebagian besar pusat listrik tenaga nuklir dibangun di dekat sungai atau danau. Sayangnya, metode pendinginan ini mengakibatkan polusi termal pada air sungai.
Neutron cepat menempuh jarak yang lebih panjang, sehingga probabilitas neutron akan menumbuk target uranium-235 lebih tinggi. Pada akhirnya sebagian besar uranium-235 akan terlibat dalam proses fisi. Kelebihan utama reaktor air berat adalah tidakperlunya dibangunfasilitas pengayaanuranium yangmahal.
JENIS lain reaktor adalah reaktor pembiak. Reaktor pembiak menghasilkan bahan yang dapat terbelah lebih banyak dari yang diperlukannya. Diketahui bahwa bila uranium-238 ditembaki dengan netron cepat, reaksi inti yang menghasilkan plutonium-239 berlangsung.
Dengan cara ini uranium-238 yang tak dapat dibelah diubah menjadi isotop plutonium-239 yang dapat dibelah. Ternyata lebih banyak netron dihasilkan bila fisi diproduksi oleh netron cepat, sebagian besar netron didapat dari fisi netron cepat dalam Pu-239.
Dalam reaktor pembiak, umumnya bahan bakar nuklir mengandung plutonium-239 dicampur dengan uranium-238 sedemikian rupa sehingga pembiakan berlangsung dalam inti, dan reaktor ini tak perlu moderator untuk memperlambat netron.
Karena fisi lebih kecil kemungkinan terjadinya dengan netron cepat, reaktor pembiak memerlukan bahan bakar yang lebih diperkaya daripada reaktor biasa, (reaktor netron lambat).
Dalam operasi reaktor pembiak, setiap inti uranium-235 (atau plutonium-239) mengalami fisi, lebih dari satu netron ditangkap uranium-238 untuk menghasilkan plutonium-239. Jadi setumpuk bahan yang dapat terfisi dapat senantiasa dihasilkan seiring dengan berkurangnya bahan bakar awal.
Salah satu masalah reaktor pembiak adalah secara ekonomi reaktor pembiak lebih mahal pembangunannya dibandingkan dengan reaktor konvensional. Ada juga beberapa kesulitan teknis berkaitan dengan konstruksi reaktor semacam ini.
Di Korea Utara, khususnya di Yongbyon Nuclear Research Center, terdapat reaktor nuklir pembangkit listrik, kompleks fabrikasi bahan bakar nuklir, kompleks tempat penyimpanan dan reaktor nuklir untuk riset.
Selain hal-hal itu, AS percaya Korea Utara menggunakan reaktor dan kompleks ekstraksinya untuk memproduksi plutonium (yang kemungkinan digunakan untuk senjata nuklir). Plutonium memang seperti dibahas di atas mungkin dijadikan bom atom walaupun juga mungkin digunakan untuk reaktor. Yang benar yang mana, hanya Korea Utara yang persis tahu.
Tak lama kemudian, pemerintah Amerika Serikat menggelar sebuah proyek rahasia yang disebut proyek Manhattan. Proyek ini menitik beratkan pada riset dan pembuatan bom atom. Tapi, persoalan utama yang dihadapi Amerika Serikat adalah memisahkan isotop uranium (alamiah), yang mana sebagian besar atas isotop uranium dengan nomor atom 238. Kadar U-235 hanya < 1% dari uranium metal yang berada di alam. Padahal, kadar uranium alamiah di dalam bebatuan hanya sekitar 0,7%. Uranium-238 adalah bahan yang dapat diubah menjadi bahan fisil (dapat dibelah menjadi) Pu-239. Yakni setelah ia diradiasi dengan neutron di dalam sebuah reaktor. Uranium-235 juga merupakan bahan fisil, dan ia dapat dibelah menjadi fragmen nuklida yang lebih kecil dengan membebaskan energi yang cukup besar (sekitar 25,5 juta kilo kalori perkilogram uranium). Bandingkan dengan energi yang dibebaskan pada pembakaran 1 kilogram karbon yang hanya sebesar 8,5 kilokalori. Kesulitan pemisahan U-235 yang berasal dari U-238 ini, disebabkan oleh sifat-sifat kimiawi yang serupa. Kesulitan ini dapat dibandingkan seperti sulitnya memisahkan sakarose dari larutan glukose. Sebab, pemisahan secara kimiawi sulit untuk dilakukan, maka perlu dikembangkan cara-cara fisikawi. Metode yang pernah dikembangkan (antara lain) pada saat ini adalah metoda difusi gas, metoda pemisahan magnetik, dan metoda pemisahan isotop dengan laser (LIS). Dalam proses pengayaan U-235, uranium perlu diubah menjadi gas UF6 alias Uranium Heksaflorida. Alasannya, U-235 lebih ringan daripada U-238, sehingga ia memiliki kelincahan lebih tinggi dan lebih mudah menembus membran buatan yang berpori-pori sangat halus. Dengan tekanan yang memadai, campuran gas UF6 dari isotop U-235 dan U-238 dapat dilewatkan melalui membran. Dan setelah melewati membran berpori-pori tadi, maka akan terjadi kenaikan konsentrasi U-235 F6. Hasil pengayaan ini dapat dilewatkan lagi melalui membran selanjutnya dan demikian seterusnya. Lalu setelah melewati ribuan membran, konsentrasi U-235 dapat dinaikkan, tapi tidak pada U-238. U-238 yang tereksitasi ini dapat diionkan yang kemudian dapat dipisahkan secara elektromagnetik, atau direaksikan dengan bahan tertentu yang mengakibatkan isotop itu terperangkap. 1. Daya ledak dari kedua bom itu masing-masingnya adalah sekitar 10 kiloton (satu kiloton setara dengan satu juta kilogram bahan peledak TNT (bahan peledak konvensional). Reaksi Nuklir Berantai Reaksi nuklir yang dapat digunakan untuk membangkitkan energi itu ada dua jenis. • Reaksi nuklir fisi (pembelahan). Dalam reaksi fisi, atom-atom berat yang dapat terbelah (fisionable) dipisahkan oleh neutron. • Reaksi nuklir fusi (penggabungan). Dalam reaksi fusi, terjadi penggabungan inti-inti isotop hidrogen. Ada tiga inti yang dapat terbelah, yaitu: U-235, U-233 dan Pu-239. Neutron adalah partikel yang ideal untuk membelah inti. Ia tidak bermuatan listrik, sehingga mudah masuk ke dalam inti atom tanpa mengalami gaya tolak Coulomb. Sebagaimana diketahui bahwa atom tersusun atas neutron dan proton yang terikat dalam suatu volume yang sangat kecil. Ia dikitari oleh elektron orbit. Ukuran atom berorde 10-10 m, sedangkan ukuran inti berorde 10-15 m. Bayangkan saja bahwa seandainya elektron, proton dan neutron ini skalanya diperbesar menjadi seukuran kelereng dengan radius 1 cm. Maka kelereng elektron ini akan mengitari kelereng inti yang berjarak radius 1 km. Atom netral memiliki jumlah elektron yang sama dengan jumlah protonnya, dan jumlah ini menggambarkan nomor atom. Jumlah proton dan neutron menggambarkan nomor massa. Untuk U-235, maka jumlah protonnya adalah 92 dan jumlah neutronnya 143. Sedangkan U-238, jumlah protonnya 92 dan jumlah neutronnya 146. Secara kimiawi, sifat U-235 dan U-238 adalah sama. Walaupun proton dan neutron terpaket dalam suatu volume yang sangat kecil, namun gaya-gaya repulsif coulomb antar proton dapat dikalahkan oleh gaya-gaya nuklir yang sangat kuat. Pada sebuah reaksi pembelahan inti, maka energi yang dibebaskan adalah sekitar 100 sampai 200 juta elektron volt. Dan pada saat yang sama, reaksi ini membebeaskan 2 sampai 3 neutron baru. Dalam waktu seperjuta detik, gumpalan bahan fisi akan membebaskan energi yang sangat besar dan terjadilah ledakan yang amat dahsyat. Reaksi berantai dapat terjadi pada gumpalan massa fisi yang mencapai massa super kritis. U-235 atau U-238 bersifat radioaktif. Uranium adalah metal yang berat jenisnya lebih besar dari emas. Dan setelah mengalami peluruhan lebih dari 100.000 tahun, maka uranium akan menjadi timbal (Pb). Kedua isitop ini terdapat di alam dengan perbandingan (U-238/U-235)= 99,3/0,7. Uranium-235 sangat sulit dipisahkan. Dari setiap 25.000 ton biji uranium yang ditambang dari perut bumi, maka hanya sekitar 50 ton yang bisa menghasilkan metal uranium. Dan dari metal uranium ini, maka 99,3%-nya adalah U-238 yang tidak bisa diubah menjadi bahan bakar langsung untuk membuat bom atom. Seandainya proses terbentuknya uranium ini adalah permulaan bagi terbentuknya bebatuan atau bumi, maka dengan mengukur kadar Pb-nya, umur suatu batu dapat diperkirakan. Dari sinilah umur bumi kita bisa diperkirakan, yakni sekitar empat setengah milyar tahun silam. Unsur plutonium tidak natural sehingga tidak alamiah. Dan kalaupun ditemukan, maka ia hanya dalam bentuk unsur kelumit. Untuk itu, Pu-239 dapat dibuat di dalam suatu reaktor, yakni pada saat U-238 dihujani neutron secara bertubi-tubi, sehingga berubah menjadi U-239. Setelah melepaskan positron, unsur yang terakhir ini akan mengalami transmutasi dan berubah menjadi Pu-239. Ada metode kimiawi yang dapat digunakan untuk memisahkan Pu-239 dari campurannya. Plutonium adalah unsur yang mudah terbelah, tapi tidak semudah U-235. Dan bahan ini juga beracun. Bahan-bahan murni yang berunsur nuklir, perlu disimpan sedemikian rupa agar massa kritis tidak terlampaui. Untuk bom nuklir, bahan-bahan ini perlu dipisahkan sedemikian rupa masing-masing tidakmencapai kritis. Kekritisan dapat dicapai dengan menyatukan bahan-bahan yang dibawah kritis tersebut sampai mencapai massa superkritis. Salah satu cara adalah dengan detonasi kimia. Bahan lain yang merupakan bahan bom nukri adalah gas deuterium dan tritirium. Pada suhu yang sangat tinggi kedua bahan ini dapat bereaksi fusi nuklir dan menghasilkan panas. Reaksi ini terjadi di matahari dan merupakan sumber energi kehidupan dibumi. Setiap detiknya dibakar sekitar 6 juta ton gas hidrogen. Hasil gas bahan berupa gas He dan dalam reaksi dibebaskan neutron cepat. Bom atom fusi memerlukan kondisi awal dengan suhu yang tinggi sekali yaitu berorde jutaan derajat celcius. Suhu ini dapat dicapai dengan ledakan fisi U-235 atau fisi Pu-239. Dengan demikian bom atom hidrogrn merurpakan bom atom dua tngkat yaitu fisi diikuti fusi. Kekuatannyapun lebih dahsyat yaitu sekitar 15 Megaton. Bom fusi dapat digunakan untuk meledakkan bom nuklir dengan bahan bakar U-238. Bahan ini sangat melimpah sehingga dapat dibuat bom nuklir yang dangat kuat. U-238 dapat dibelah oleh neutron cepat yang dibebaskan oleh reaksi fusi. Dengan fisi (U-238), fusi (D-T) dan fisi (U-238) maka dapat dicapai kekuatan 125 Megaton atau lebih.

Reaksi Inti adalah proses perubahan yang terjadi dalam inti atom akibat tumbukan dengan partikel ... Reaksi inti ditemukan oleh Rutherford pada tahun 1919. ...


No comments:

Post a Comment